Judul: BELAJAR BERFIKIR DENGAN MELIBATKAN OPERASI MENTAL
Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah bagian KESISWAAN / STUDENTS & LEARNING.
Nama & E-mail (Penulis): Mickaus Gombo, S.Pd
Saya Dosen di STKIP YPPGI Abdi Wacana
Topik: BELAJAR BERFIKIR DENGAN MELIBATKAN OPERASI MENTAL
Tanggal: 21 Juli 2008

www.re-searchengines.com


BELAJAR BERFIKIR DENGAN MELIBATKAN OPERASI MENTAL BY: MICKAUS GOMBO, S.Pd Penulisnya adalah pemerhati pendidikan dan praktisi pendidikan Jika kita duduk sejenak dan mengamati kondisi perkembangan pendidikan yang ada dinegara kita dan lebih terutama pada hasil belajar dari peserta didik pada berbagai jenjang pendidikan, maka dapat disayangkan. Mengapa demikian, karena dari sekian tadik yang tersebar dan menekuni diberbagai jenjang pendidikan jika dievaluasi hasilnya, maka hampir ¼ % persen dari suatu jenjang pendidikan yang dapat memperoleh predikat kelulusan yang dikelompokkan bagus (memuaskan) dan selanjut sebagian itu hanya selesai dengan kemampuan dibawah rata-rata dari standar yang diharapkan oleh masing-masing lembaga pendidikan berdasarkan standar nasional. Untuk mengetahui faktor penyebab turunnya mutu pendidikan yang ada maka letaknya ternyata pada: 1. Faktor Guru Dalam hal ini guru harus memiliki peran ganda.Maksudnya guru harus inovatif, yaitu mencari dan terus mencari hal-hal baru ( current ivent case ) untuk membekali diri dalam mendayung awal kepada peserta didik sebagai tumpangannya. Sebagai guru dalam hal ini ibarat seperti pendayung perahu dan siswa sebagai tumpangannya, sehingga guru harus mendayung dan guru tersebut mencari metode-metode dan kaidah-kaidah secara tepat, agar perahu yang didayung segera ke tepi danau atau sungai. Dimaksudkan oleh penulis adalah guru harus menjadi seorang model yang baik, agar siswa dapat meniru dan memberikan spirit dengan gaya pribadinya. Guru diharapkan juga menjadi sumber referensi hidup (Life Reference sourch) dimana guru minimal mampu menjadi sumber inspirasi pendidikan dan berusaha selalu menanam budaya membaca dan berusaha menulis serta mengkaji setiap peristiwa yang berhubungan dengan profesi dirinya. Adapun beberapa tips atau tugas guru/pengajar yang harus dilakukan yaitu: a. Ajari dan melatih siswa untuk bagaimana siswa itu dapat membaca suatu naskah atau suatu pertanyaan secara sistematis bukan impulsif. Mengapa demikian? Karena siswa tidak membaca secara sistematis, maka apa yang dibaca tidak akan dipahami secara baik dan akhirnya tidak dapat memberi jawaban, kesimpulan serta keputusan yang pasti(benar). Saya selaku pengajar dalam bidang studi matematika saya coba hendak memberi contoh berdasarkan hasil pengalaman mengajar dibawah ini, yaitu tadik selain mengenal dan menghafal model, kami juga melatih dan mengajarkan bagaimana mereka mengoperasikan mental mereka kedalam mencari atau memecahkan suatu masalah. Selain diajarkan operasi mental mereka, juga mengajarkan metode serta kaidah-kaidah yang berhubungan dengan content materi. Contoh dalam matematika seperti ini. Saya beri persamaan linear seperti . Dan bentuk seperti ini banyak guru matematika hanya memperkenalkan tentang bentuk/model saja, tanpa memperkenalkan atau menjelaskan maksud yang terkandung pada simbol-simbol persamaan linear itu, maka hal ini kebanyakan tadik tidak mengetahuinya. Maka dalam tulisan ini saya berikan usul kita mengajak siswa bahwa simbol yang kita sebut dengan variabel x itu merupakan mewakili dari suatu benda atau suatu ide. Saya usul pula kepada pengajar siapun, jikalau mejelaskan kepada tadik harus mengatakan bahwa jika kita menulis hal seperti itu membutuhkan waktu dan tempat, sehingga cukup mewakilkan dengan suatu huruf yang kita sebut dengan variabel/peubah, agar mereka tidak menghafalkan letak dan susunan serta lambangnya saja, tetapi terlebih dari itu mereka harus mengetahui makna yang tersirat dalam lambang-lambang itu. Dengan demikian konsep matematika dapat dipahami secara benar dan baik oleh tadik. Misalkan benda itu seperti ini: 1 ikat kangkung tambah 2 ikat kangkung tambah 3 ikat kangkung Supaya lebih mudah, cukup kita wakilkan kangkung dengan huruf x Jika ide diatas kami susun secara matematis dengan simbol tertentu, maka susunannya seperti dibawah ini: 1.x + 2.x + 3.x atau X + 2X + 3X dengan keterangan sebagai berikut: X = Variabel X; X = banyaknya nama jenis ikatan kangkung 1,2,3 = konstanta banyaknya ikatan kangkung. Contoh lain: Melihat suatu barisan dengan pola dan kaidah tertentu seperti ini. 1, 2, 4, 8, ... , .....; Maksudnya supaya bagaimana tadik menemukan solusi dengan cara melibatkan operasi mental. Operasi mental ini tak dapat berdiri sendiri, namun dalam operasi mental seseorang harus diawali dengan pola-pola tertentu secara logis dan sistematis serta digunakan dengan metode-metode tertentu sesuai dengan skop pembicaraan/pembahasan. Pola diatas dapat dilihat lebih lanjut seperti ini; 1x2=2, 2x2=4, 2x4=8,....,2x16=32, dst. Selanjut menemukan suatu ide baru yang disebut dengan mewakili seperti yang kami singgung diatas. Bentuk ide seperti inilah disebut rumus/formula. Berdasarkan pola penyelesaian diatas dapat ditetapkan rumus seperti dibawah ini: n x 2 = ..., n bisa diganti dengan apa saja entah bilangan atau sesuatu yang lain dengan keterangan jelas serta mempunyai kondisi atau persyaratan tertentu supaya mempunyai nilai dan arti. Dalam pemecahan-pemecahan ini peserta didik kerap kali menggunakan metode-metode tertentu sesuai dengan sifat materi dan dalam hal seperti ini disebut �?o Algoritma �?o ( W.S.Winkel 16:1987 ) 2. Faktor Fasilitas Faktor fasilitas juga dapat mempengaruhi pembentukan pikiran tadik, sebab dimana fasilitas yang memadai proses Belajar mengajarpun dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Sebab kondisi fasilitas yang dapat membentuk pribadi dalam mengundang motivasi dan minat belajar semakin meningkat. Fasilitas yang dimaksudkan oleh penulis disini adalah baik itu sarana maupun prasarana yang ada pada tempat belajar siswa atau tadik itu sendiri. Misalkan dalam mempelajari IPA harus ada LAB IPA, dengan tujuan agar mempelajari sesuatu hanya dengan ceritera atau teori saja sulit dipahami serta sulit dibayangkan penjelasan guru, maka perlu adanya kegiatan nyata dengan cara mengekspose benda yang diceritera atau dijelaskan kepada tadik. Dengan cara mereka melihat, meraba, atau mencium mereka dapat membayangkan dan menghubungkan pikiran-pikiran yang pernah pelajari atau pernah melihat sebelumnya dengan benda yang ia melihat sekarang. Disinilah peserta didik dapat memperoleh pengalaman belajar baru yang lebih komplite, maka secara tidak langsung proses operasi pembentukan mental sedang terjadi saat itu juga. 3. Faktor Kesiapan MENTAL Tadik Selain kedua faktor diatas adapula satu faktor yang sangat mempengaruhi dalam pembentukan pikiran dengan melibatkan operasi mental, yaitu faktor kesiapan oleh para warga belajar atau siswa itu sendiri, sebab perlu diketahui bahwa peserta didik ibarat seperti ember kosong yang siap diisi air dan metode/pendekatan hanya sebagai corong yang menghubungkan, serta guru ibarat sebagai mesin penggeraknya. Dengan demikian tadik siap memfokuskan pikiran ketika guru menjelaskan atau menyiram pelajaran yang disiapkan oleh guru itu sendiri. Dalam hal ini guru diharapkan mencari metode-metode dan pendekatan untuk membangkitkan motivasi dan minat pada bidang yang ditekuninya. Untuk lebih menarik dan tidak membosankan kami menyisipkan sebuah proses secara skematis dibawah ini.

Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan.
Nama & E-mail (Penulis): Tito Irianto
Saya Masyarakat di Bandung
Tanggal: 1-06-2001 Judul Artikel: Pendidikan Lingkungan Hidup, Khususnya Lingkungan Alam Untuk Siswa Sekolah
Topik: Pendidikan Lingkungan Alam Untuk Siswa Sekolah
www.re-searchengines.com

Sudah saatnya anak-anak sekolah, baik itu anak Sekolah Menengah Umum, Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Dasar, diajarkan masalah lingkungan hidup, khususnya lingkungan alam. Saya mencoba keluar masuk kesekolah-sekolah, baik itu SMU, SMP maupun SD, ada kecenderungan mereka sangat rendah sekali kepeduliannya terhadap lingkungan alam. Hal ini sungguh sangat disayangkan.
Saya tidak akan menyalahkan siapapun dalam hal ini, karena memang kita semua punya andil kesalahan yang membuat anak-anak itu kurang sekali kepeduliannya terhadap lingkungan alam, tidak terlepas juga saya yang berkiprah dalam kegiatan dilingkungan hidup.
Untuk mengatasi hal itu, saya sudah mencoba mengajak beberapa sekolah yang ada di Bandung untuk berpartisipasi dalam penanganan hal tersebut.
Beberapa LSM yang bergerak di bidang lingkungan dan Kelompok Pecinta Alam yang banyak sekarang ini, saya ajak, supaya mereka pro-aktif menawarkan program-programnya yang sifatnya gratis dan tidak membebankan pada pihak Sekolah.
Karena dengan hal tersebut mudah-mudahan pendidikan lingkungan ini akan mencapai sasarannya secara tepat.

Oleh : Administrator
Penulis: Uhay dan Irine Puspita (Guru SLB Negeri Subang) www.plbjabar.com
Memasuki lingkungan baru selalu menjadi problema bagi semua orang. Apalagi bagi mereka yang mempunyai kebutuhan khusus yang diakibatkan oleh kelainan. Termasuk anak tunanetra. Baik bagi mereka yang baru masuk sekolah, maupun bagi merekayang sudah bersekolah. Persoalan berat akan sangat terasa bagi mereka yang barupertama kali memasuki dunia sekolah. Beragam kesan dan rasa muncul pada dirinya.Umumnya lingkungan baru memberikan rasa tidak nyaman bagi anak tunanetra, kadangdibarengi dengan ketakutan-ketakutan yang sangat berlebihan. Setiap langkah yangditapaki anak tunanetra menjadi masalah baginya. Teman yang menghampiri, menjadiseseorang yang amat asing untuk dikenalnya. Ia akan menarik diri jika ada yang inginberkenalan dengannya. Sikap egois, cepat marah, mudah curiga, takut terhadaplingkungan baru, dan sebagainya. Jelasnya, anak tunanetra kurang dapat melakukaninteraksi sosial yang memuaskan atau interaksi sosialnya mengalami keterbatasan.Keadaan ini tentunya menimbulkan persoalan tidak saja bagi sang siswa, tetapi jugabagi guru dan teman-teman di lingkungan sekitarnya.Interaksi merupakan perhatian timbal balik antara dua orang atau lebih terhadapsuatu objek atau orang ke tiga. Perhatian timbal balik ini sering kali direspondengan isyarat, ujaran atau tindakan. Soerjono Soekanto (1986: 51) mengutip pendapatYoung dan Raymond dan Gillin dan Gillin menjelaskan, bahwa: “Interaksi sosialmerupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antaraorang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orangperorangan dengan kelompok manusia.”Anak tunanetra memiliki ganguan fungsi penglihatan baik sebagian atau seluruhnya,sehingga menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan dirinya, seperti: padaperkembangan kognitif, perkembangan akademik, perkembangan orientasi dan mobilitasserta perkembangan sosial dan emosi. Hal ini mengakibatkan anak tunanetra dalammenjalankan perannya sebagai makhluk sosial seringkali mengalami hambatan-hambatan.Ini dikarenakan anak tunanetra kurang mampu memiliki persyaratan-persyaratannormatif yang dituntut dari lingkungannya, misal: kemampuan untuk menyesuaikan diridalam bergaul, cara menyatakan terimakasih, saling menghormati, kemampuan dalamberekspresi, cara melambaikan tangan, dan lain-lain.Adanya perubahan lingkungan baru bagi anak tunanetra memberikan benturan-benturan,yang dapat mengakibatkan hal-hal yang menyenangkan atau mengecewakan. Anak tunanetraharus dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian sosial dalam lingkungan sekolah. Bagianak tunanetra hal ini sangatlah sulit, karena anak harus menyesuaikan diri denganlingkungan yang baru di sekolah, baik secara pasif maupun secara aktif.Untuk menghindari kemungkinan terjadinya penyimpangan perilaku sosial dalamberinteraksi dengan lingkungan, mereka harus mampu memanfaatkan alat indera lain.Alat indera yang dapat dikembangkan seperti: pendengaran, perabaan, penciuman danpengecap. Hal ini sebagai upaya memperlancar interaksi sosial dengan lingkungannya,walaupun hasilnya tidak sebaik dan selengkap jika dibarengi dengan adanya inderapenglihatan.Selain itu, adanya kesiapan mental anak tunanetra untuk memasuki lingkungan baruatau kelompok lain yang berbeda, akan sangat baik dalam pengembangan sosialnya.Sebaliknya, ketidaksiapan mental anak untuk masuk ke dunia baru sering mengakibatkananak tunanetra gagal dalam mengembangkan kemampuan interaksi sosialnya. Jikakegagalan dianggap sebagai tantangan dan merupakan pengalaman yang terbaik, maka halini akan menjadi modal utama untuk memasuki lingkungan baru berikutnya. Namunapabila kegagalan tersebut merupakan ketidakmampuan, maka akan timbul rasafrustasi/putus asa, menarik diri dari lingkungan.Keterbatasan interaksi sosial pada anak tunanetra patuh dipahami oleh semua pihak,terutama orang tua dan guru. Orang tua dan guru berkewajiban mengupayakan agarinteraksi sosial yang dimiliki anak tunanetra dapat ditingkatkan. Guru mempunyaiperanan penting dalam menghadapi anak tunanetra agar mampu berinteraksi denganlingkungan di sekolah, sebab guru sebagai orangtua di sekolah yang harus siapmelayani pendidikan anak tunanetra dengan segala bentuk kekurangannya, khususnyadalam mengembangkan kemampuan interaksi sosial anak tunanetra di Sekolah LuarBiasa.Faktor-faktor yang dapat menghambat interaksi anak tunanetra ketika berada disekolah yaitu:1. Pengalaman buruk yang diterima sebelum berada di sekolah.2. Mobilitas yang belum terlatih, sehingga memunculkan keraguan pada diri anak untukmelakukan kontak sosial dan komunikasi.3. Persepsi yang ditanamkan orang-orang terdekat terhadap kontak sosial.4. Minat yang dimiliki anak tunanetra.5. Peran individu lain di lingkungan sekitarnya terhadap kehadiran dirinya.Interaksi sosial anak tunanetra di Sekolah Luar Biasa juga dipengaruhi olehperbedaan kepribadian dan kecakapan yang dimiliki anak. Dalam hal ini, guru memilikiperan yang sangat besar untuk terlibat dalam interaksi sosial anak tunanetra disekolah. Peran yang dilakukan guru yaitu, mengadakan hubungan dengan guru-guru lain,teman-teman seusia dan orang lain yang ada disekitar lingkungan sekolah. Pengalamandalam berinteraksi di lingkungan rumah yang dibimbing orang tua, juga sangatmenentukan kepribadian dan kecakapan anak tunanetra pada saat berada di sekolah. Sekolah memiliki norma-norma dan aturan-aturan yang berbeda dengan norma-norma danaturan-aturan yang berlaku di rumah. Di sekolah anak tunanetra akan dihadapkan padaberbagai aturan dan disiplin yang berlaku pada lingkungannya. Masa transisi dariorientasi lingkungan keluarga ke sekolah tidaklah mudah. Hal ini sering menimbulkanmasalah pada anak tunanetra. Ketidaksiapan mental anak tunanetra dalam menghadapilingkungan baru di sekolah atau kelompok lain yang berbeda, seringkali mengakibatkangagal dalam mengembangkan kemampuan sosialnya. Apabila kegagalan tersebut dihadapipada suatu kenyataan dan tantangan, maka hal ini biasanya menjadi modal utama dalammenghadapi lingkungan yang baru. Namun jika kegagalan dihadapi sebagai suatuketidakmampuan, maka sikap-sikap ketidakberdayaan yang akan muncul menumpuk menjadisebuah rasa putus asa yang mendalam dan akhirnya menghindari kontak sosial.Pengalaman sosial yang dimiliki seseorang dapat menentukan daya yang memungkinkanseseorang dapat menguasai lingkungan, penguasaan diri atau hubungan antara keduanya.Adanya kehilangan fungsi penglihatan pada anak akan mengakibatkan terjadinyaketerpisahan sosial. Anak dengan ketunanetraan seringkali mengalami kesulitan untukmenyelaraskan tindakannya pada situasi yang ada. Keterbatasan kemampuan yangdimiliki membuat anak tunanetra merasa terisolasi dari orang-orang normal, ataudapat menimbulkan perasaan minder, bimbang, ragu, tidak percaya diri, jika beradadalam situasi yang tidak dikenalnya.Situasi dan aktivitas di sekolah bagi anak tunanetra yang hanya beberapa jam dalamsehari, sesungguhnya menggantikan posisi keluarga. Peran orang tua diganti olehbapak/ibu guru, peran saudara diganti oleh teman-teman, dan sebagainya. Sedangkankontak sosial dan komunikasi di sekolah terjadi di dalam dan di luar kelas.Interaksi yang terjadi di dalam kelas berlangsung antara guru dengan siswa, dansiswa dengan siswa. Supaya kontak dan komunikasi berjalan lancar, maka setiap wargasekolah harus memahami dalam situasi mana interaksi itu berlaku. Pemahaman dariseluruh warga sekolah dapat membantu anak tunanetra untuk bisa melakukan kontaksosial seperti yang diharapkan. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematik melaksanakanprogram bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu anak tunanetra agarmampu mengembangkan potensinya secara optimal, baik yang menyangkut aspek moral,spiritual, intelektual, emosional maupun sosial. Melalui program bimbingan,pengajaran, dan latihan anak tunanetra mendapatkan perhatian khusus dalam halinteraksi sosial di sekolah. Dalam hal ini, guru memiliki peran yang besar, agaranak tunanetra memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan individu lain yangberada di sekitar sekolah. Guru membimbing anak tunanetra secara bertahap,disesuaikan dengan dasar pengalaman anak tunanetra ketika berada dalam lingkunganrumahnya.Program bimbingan, pengajaran, dan latihan di sekolah yang berkaitan dengankebutuhan interaksi sosial anak tunanetra dapat diberikan guru dalam bentuk:1. Bimbingan untuk mengenal situasi sekolah, baik dari sisi fisik bangunan maupundari sisi interaksi orang per-orang.2. Menumbuhkembangkan perasaan nyaman, aman, dan senang dalam lingkungan barunya.3. Melatih kepekaan indera-indera tubuh yang masih berfungsi sebagai bekal pemahamankognitif, afektif dan psikomotornya.4. Melatih keberanian anak tunanetra untuk mengenal hal-hal baru, terutama hal-halyang tidak ia temui ketika berada di rumah.5. Menumbuhkan kepercayaan diri dan kemandirian dalam berkomunikasi dan melakukankontak.6. Melatih mobilitas anak untuk mengembangkan kontak-kontak sosial yang akandilakukan dengan teman sebaya.7. Memberikan pendidikan etika dan kesantunan berkaitan dengan adat dan kebiasaanyang berlaku dalam suatu daerah. Pendidikan etika yang berlaku di rumah dapatberbeda ketika anak tunanetra masuk dalam lingkungan baru dengan beragam kepribadianindividu.8. Mengenalkan anak tunanetra dalam beragam karakter interaksi kelompok. Hal inidapat memberikan pemahaman bahwa tiap kelompok memiliki karakter interaksi yangberbeda. Misalnya kelompok anak-anak kecil, kelompok remaja, atau kelompok orangdewasa.Interaksi sosial yang baik maupun yang kurang baik merupakan proses yang tidakditurunkan bagi anak tunanetra, melainkan diperoleh melalui proses belajar,bimbingan dan latihan. Pengaruh internal maupun eksternal yang positif dan negatif,secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi anak tunanetra dalamberinteraksi. Untuk menghindari terjadinya perilaku yang kurang baik pada anaktunanetra dalam bergaul perlu ditanamkan kemauan yang kuat. Kemauan yang kuat padadiri anak tunanetra dapat menimbulkan kepercayaan pada diri. Anak tunanetra jugadapat membedakan antara perilaku yang baik dan kurang baik dalam berinteraksi denganlingkungannya melalui program pengembangan interaksi sosial.

Judul: Pembelajaran Berbasis Internet Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Pada Siswa Sekolah Dasar
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Rustantiningsih
Saya Guru di SDN Anjasmoro Semarang
Topik: Pembelajaran Internet
Tanggal: 8 Juli 2008
www.re-searchengines.com


Pembelajaran Berbasis Internet Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Pada Siswa Sekolah Dasar
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah Dewasa ini pemerintah menghadapi berbagai kendala dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan. Ketidakmerataan mutu guru di sekolah menjadi alasan utama pemerintah untuk selalu memperhatikan peningkatan kualitas sumber tenaga kependidikan. Hal ini ditempuh karena keberhasilan mutu pendidikan sangat tergantung dari keberhasilan proses belajar-mengajar yang merupakan sinergi dari komponen-komponen pendidikan baik kurikulum tenaga pendidikan, sarana prasarana, sistem pengelolaan, maupun berupa faktor lingkungan alamiah dan lingkungan sosial, dengan peserta didik sebagai subjeknya. Proses belajar mengajar sebagai sistem dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu di antaranya adalah guru yang merupakan pelaksana utama pendidikan di lapangan. Kualitas guru baik kualitas akademik maupun non akademik juga ikut mempengaruhi kualitas pembelajaran. Faktor lainnya yang tak kalah pentingnya dalam menentukan keberhasilan kegiatan belajar-mengajar, adalah sumber belajar. Dalam rangka mengupayakan peningkatan kualitas program pembelajaran perlu dilandasi dengan pandangan sistematik terhadap kegiatan belajar-mengajar, yang juga harus didukung dengan upaya pendayagunaan sumber belajar di antaranya internet. Ini di satu pihak, sedangkan di pihak lain kenyataan menunjukkan bahwa sumber belajar dan sarana pembelajaran yang telah dibakukan, diadakan dan didistribusikan oleh pemerintah belum didayagunakan secara optimal oleh guru, pelatih dan instruktur. Untuk mewujudkan kualitas pembelajaran, perlu ditempuh upaya-upaya yang bersifat komprehensif terhadap kemampuan guru dalam memanfaatkan internet sebagai sumber belajar. Namun demikian, berdasarkan isu yang berkembang dalam pendidikan, pembelajaran pada sekolah dasar belum berjalan secara efektif, bahkan banyak guru yang mengajar tanpa memanfaatkan sumber belajar. Mereka mengajar secara rutin apa adanya sehingga pembelajaran berkesan teacher centris. Berkait dengan perkembangan teknologi jaringan komputer yang ada sekarang ini, siswa SD pun dapat belajar dengan menggunakan jaringan internet sebagai sumber belajar, tentu saja dengan bimbingan guru atau pendampingan orang tua. Namun ironisnya banyak guru yang belum mengenal internet padahal siswa sudah banyak yang terbiasa menjelajahi dunia maya tersebut. Terkait dengan masalah tersebut, sudah seharusnya guru zaman sekarang ini mulai memanfaatkan internet sebagai sumber belajar. Dengan pembelajaran seperti ini diharapkan pengetahuan guru maupun siswa akan berkembang. Selain itu guru maupun siswa juga akan terbiasa mengoperasikan perangkat komputer tersebut, sehingga tidak ada lagi istilah guru gaptek (Gagap Teknologi) maupun siswa gaptek. Kaitannya dengan internet sebagai sumber belajar, pada makalah ini akan dibicarakan pengertian internet, spesifikasi peralatan internet, pengertian sumber belajar, dan metode pembelajaran melalui internet.
2. Rumusan masalah Dari uraian di atas permasalahan yang hendak dikaji yaitu bagaimanakah pembelajaran berbasis internet itu dapat diterapkan pada siswa sekolah dasar?
3. Tujuan dan Manfaat
a. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini untuk mendeskripsikan pembelajaran berbasis internet pada siswa sekolah dasar.
b. Manfaat penulisan ini meliputi manfaat teoretis dan praktis. Manfaat teoretis, makalah ini dapat digunakan sebagai acuan untuk memahami pembelajaran berbasis internet pada siswa sekolah dasar. Manfaat praktis, bagi guru sebagai masukan dalam memilih sumber belajar dan dapat menerapkannya dalam proses pembelajaran.
B. Pembahasan
1. Pengertian Internet Diera globalisasi, negara-negara diberbagai belahan dunia sudah tidak ada lagi batas dalam mempeeroleh informasi. Dalam waktu yang sama di tempat berbeda dengan jarak yang jauh sekalipun orang saling bertukar informasi dana berkomunikasi. Kemajuan teknologi informasi ini tidak hanya dirasakan oleh dunia bisnis, akan tetapi dunia pendidikan juga ikut merasakan manfaatnya. Perkembangan teknologi informasi lebih terasa menfaatnya dengan hadirnya jaringan internet yang memanfaatkan satelit sebagai media transformasi. Hadirnya internet sebagai sumber informasi ini sangat memungkinkan seseorang untuk mencari dan menyebarkan segala ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk penemuan penelitian keseluruh dunia dengan mudah, cepat, dan murah, sehingga pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi diharapkan dapat lebih cepat dan merata. Dengan demikian segala informasi yang ada di internet dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Pengertian internet itu sendiri adalah jaringan (Network) komputer terbesar di dunia. Jaringan berarti kelompok komputer yang dihubungkan bersama, sehingga dapat berbagi pakai informasi dan sumber daya (Shirky, 1995:2). Dalam internet terkandung sejumlah standar untuk melewatkan informasi dari satu jaringan ke jaringan lainnya, sehingga jaringan-jaringan di seluruh dunia dapat berkomunikasi. Sidharta (1996) memberikan definisi yang sangat luas terhadap pengertian internet. Internet adalah forum global pertama dan perpustakaan global pertama dimana setiap pemakai dapat berpartisipasi dalam segala waktu. Karena internet merupakan perpustakaan global, maka pemakai dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Secara umum dapat dikatakan bahwa internet adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan saling hubungan antar jaringan-jaringan komputer yang sedemikian rupa sehingga memungkinkan komputer-komputer itu berkomunikasi satu sama lain. 2. Spesifikasi Peralatan Internet Agar kita dapat mengoperasikan internet dengan baik, maka dibutuhkan perangkat keras dan perangkat lunak yang memadahi. Perangkat keras adalah komponen-komponen fisik yang membentuk suatu sistem komputer serta peralatan-peralatan lain yang mendukung komputer untuk melakukan tugasnya. Perangkat keras tersebut berupa:
(1) satu unit komputer, (2) modem, (3) jaringan telepon, (4) adanya sambungan dengan ISP (Internet Service Provider).Sedangkan perangkat lunak adalah program-program yang diperlukan untuk menjalankan perangkat keras komputer. Perangkat lunak ini kita pilih sesuai dengan:
(1) kemampuan perangkat keras yang kita miliki, (2) kelengkapan layanan yang diberikan, (3) kemudahan dari perangkat itu untuk kita operasikan dalam (User Friendly).3. Pengertian Sumber Belajar Dalam kawasan teknologi instruksional, sumber belajar pada dasarnya merupakan komponen teknologi instruksional, yang disebut dengan istilah "Komponen Sistem Instruksional". Teknologi instruksional adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam situasi di mana kegiatan belajar-mengajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol. Dalam teknologi instruksional, pemecahan masalah itu berupa komponen sistem instruksional yang telah disusun terlebih dahulu dalam proses desain atau pemilihan dan pemanfaatan, dan disatukan ke dalam sistem instruksional yang lengkap, untuk mewujudkan proses belajar yang terkontrol dan berarah tujuan, yang komponennya meliputi pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar (Setijadi, 1986:3). Mudhofir (1992:13) menyatakan bahwa yang termasuk sumber belajar adalah berbagai informasi, data-data ilmu pengetahuan, gagasan-gagasan manusia, baik dalam bentuk bahan-bahan tercetak (misalnya buku, brosur, pamlet, majalah, dan lain-lain) maupun dalam bentuk non cetak (misalnya film, filmstrip, kaset, videocassette, dan lain-lain). AECT menguraikan bahwa sumber belajar meliputi: pesan, orang, bahan, alat, teknik dan lingkungan. Komponen-komponen sumber belajar yang digunakan di dalam kegiatan belajar mengajar dapat dibedakan dengan dengan cara yaitu dilihat dari keberadaan sumber belajar yang direncanakan dan dimanfaatkan. Sumber belajar yang sengaja direncanakan (by design) yaitu semua sumber belajar yang secara khusus telah dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal. Sumber belajar karena dimanfaatkan (by utilization) yaitu sumber belajar yang tidak secara khusus didesain untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, diaplikasi, dan digunakan untuk keperluan belajar (Setijadi, 1986:9). Berdasarkan konsep-konsep di atas, sumber belajar pada dasarnya merupakan komponen sistem instruksional yang meliputi pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan latar (lingkungan). Dalam makalah ini titik berat sumber belajar yang dikaji adalah internet. Sedang orang, bahan, peralatan dan teknik merupakan sumber belajar pendukung. 3. Metode Pembelajaran Melalui Internet Pembelajaran berbasis internet bagi siswa sekolah dasar sudah seharusnya mulai dikenalkan. Untuk itu para guru hendaknya sudah tahu lebih dahulu tentang dunia internet sebelum menerapkan pembelajaran tersebut pada siswa. Persiapan yang tak kalah pentingnya yaitu sarana komputer. Tentu saja dalam hal ini hanya dapat diterapkan di sekolah-sekolah yang mempunyai fasilitas komputer yang memadai. Walaupun sebenarnya dapat juga diusahakan oleh sekolah yang tidak mempunyai fasilitas komputer misalnya dengan mendatangi warnet sebagai patner dalam pembelajaran tersebut. Setelah semua perangkat untuk pembelajaran siap, guru mulai melakukan pembelajaran dengan menggunakan sumber belajar internet. Bagi siswa sekolah dasar tentu saja akses-akses yang ringan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diajarkan. Disinilah kepiawaian seorang guru ditampilkan dalam mendampingi, membimbing dan mengolah metode pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang diharapkan tercapai. Beberapa metode yang dapat dilakukan oleh guru, diantaranya: diskusi, demonstrasi, problem solving, inkuiri, dan descoveri. Guru memberikan topik tertentu pada siswa, kemudian siswa mencari hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut dengan mencari (down load) dari internet. Guru juga dapat memberikan tugas-tugas ringan yang mengharuskan siswa mengakses dari internet, suatu misal dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa dapat mencari karya puisi atau cerpen dari internet. Siswa juga dapat belajar dari internet tentang hal-hal yang up to date yang berkaitan dengan pengetahuan. Guru memberi tugas pada siswa untuk mencari suatu peristiwa muthakir dari internet kemudian mendiskusikannya di kelas, lalu siswa menyusun laporan dari hasil diskusi tersebut. Metode-metode tersebut dapat dilakukan guru dengan model-model pembelajaran yang bervariasi sehingga siswa semakin senang, tertarik untuk mempelajarinya sehingga proses pembelajaran tersebut menjadi pembelajaran yang bermakna. Dengan pembelajaran berbasis internet diharapkan siswa akan terbiasa berpikir kritis dan mendorong siswa untuk menjadi pembelajar otodidak. Siswa juga akan terbiasa mencari berbagai informasi dari berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran ini juga mendidik siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam kelompok kecil maupun tim. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu dengan pembelajaran berbasis internet pengetahuan dan wawasan siswa berkembang, mampu meningkatkan hasil belajar siswa, dengan demikian mutu pendidikan juga akan meningkat.. C. Penutup 1. Simpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran internet dapat diterapkan di sekolah dasar dengan beberapa metode pembelajaran (diskusi, inkuiri, deskoveri, dan problem solving) serta menggunakan model pembelajaran yang dikemas sederhana, menarik, dan menyenangkan siswa, sehingga pembelajarannya lebih bermakna. Dengan pembelajaran berbasis Internet mendidik siswa untuk berpikir kritis, menambah wawasan dan pengetahuan siswa, mendidik siswa untuk belajar otodidak, dan meningkatkan hasil belajar siswa sehingga mampu meningkatkan mutu pendidikan. 2. Saran Para pendidik dan pihak-pihak yang terkait hendaknya mulai menyiapkan dan memperkenalkan pembelajaran berbasis internet ini kepada siswa SD, agar para siswa siap menghadapi tantangan zaman dan dapat menerima perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dengan cepat.